Thursday, December 27, 2012

[INDONESIA-Geographic] Kampung Rawa Semarang

 

Kampung Rawa Semarang : Wisata Alam Pemandangan dan Kuliner
Koran Jakarta, 23 Desember 2012
 
Wisata Alam Pemandangan dan Kuliner Kampung Rawa Semarang
KORAN JAKARTA

Anda masih bingung akan pergi ke mana saat liburan akhir tahun ini? Tidak ada salahnya merencanakan berkunjung ke Semarang, Jawa Tengah. Sejumlah tempat wisata alam sekaligus kuliner dengan suasana asri persawahan banyak dijumpai di daerah ini. Salah satunya Kampung Rawa. Tempat ini bisa menjadi alternatif tujuan wisata Anda dengan panorama perkampungan yang berada di tepian Danau Rawa Pening.

Tempat wisata Kampung Rawa ini berbeda dengan tujuan wisata lainnya. Letaknya di tepi Jalan Lingkar Selatan Bejalen, Ambarawa, Kabupaten Semarang. Sebagai tujuan wisata, Kampung Rawa memiliki konsep permainan, kesenian, dan rumah makan apung. Hamparan persawahan nan hijau dengan latar Gunung Merbabu dan Telomoyo menjadi pemandangan yang amat khas.

Untuk masuk ke Kampung Rawa ini, Anda cukup membayar tarif 5.000 rupiah untuk satu mobil pribadi. Selain bisa menikmati keindahan Kampung Rawa ini, Anda bisa menikmati berbagai permainan yang ada di Kampung Apung atau beristirahat sejenak bersama keluarga atau rekan-rekan sejawat di sebuah tempat makan (gazebo) yang berjumlah 15 unit. Di sekelilingnya, terhampar areal pematang sawah dan danau buatan.

Di sini, ada pula Restoran Kampung Rawa yang dikonsep sebagai restoran terapung. Bangunan pondok-pondok tempat makan dibangun di atas rakit yang terbuat dari drum-drum plastik bekas. Untuk menuju restoran ini, pengunjung harus menyeberang seruas rawa menggunakan rakit yang ditarik tali, seperti rakit penyeberangan sungai.

Kampung Rawa dibuka setiap hari mulai dari jam 8 pagi hingga 9 malam. Rumah makan di sini menyediakan aneka pilihan menu makanan, mulai dari berbagai ikan air tawar segar dari danau Rawa Pening yang dimasak dengan beraneka bumbu sampai nasi goreng dan mi goreng. Jenis makanan yang ditawarkan sebagian besar makanan khas Jawa dengan sedikit sentuhan oriental.

Sejumlah permainan bisa dicoba oleh putra-putri Anda, misalnya becak air dan perahu karet yang bisa dipakai menyusuri danau di kawasan Kampung Apung, atau naik becak mini dan ATV mini yang dapat disewa dengan sistem waktu.

Namun, atraksi yang paling diminati oleh para pengunjung adalah menikmati sensasi naik perahu di Danau Rawa Pening. Hanya dengan biaya 70 ribu rupiah, Anda dapat menikmati panorama di sekeliling Danau Rawa Pening dengan menaiki sebuah kapal dengan motor tempel yang cukup nyaman.

Setelah puas berkeliling atau makan, kita bisa melihat atraksi kesenian Jathilan atau tarian kuda lumping pada setiap hari Minggu yang digelar pengelola Kampung Rawa sebagai upaya turut melestarikan budaya lokal.

Pengelolaan objek wisata Kampung Rawa tersebut dilakukan oleh 12 kelompok tani dan nelayan di Desa Bejalen dan Kelurahan Tambakboyo, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang dinamakan Paguyuban Kampung Rawa dengan jumlah anggota 325 orang. Upaya pengeloaan yang ditempuh oleh para nelayan dan petani tersebut bertujuan memperbaiki kesejahteraan petani dan nelayan Rawa Pening di Bejalen dan Tambakboyo.

Nikmatnya Tahu Bakso Bu Pudji

Jika Anda berkunjung ke Semarang, jangan lupa singgah untuk mencoba tahu bakso Bu Pudji di Ungaran, Kabupaten Semarang. Tahu bakso Bu Pudji ini berbeda dengan bakso lainnya. Selain karena memang sudah terkenal, tahu bakso ini memiliki rasa yang lebih kenyal, gurih, dan tidak asin. Jika dipadukan dengan cabai rawit hijau dan kecap, rasanya akan semakin nikmat.

Tahu bakso Bu Pudji terletak di Jalan Letjen Suprapto No 24, Ungaran, Kabupaten Semarang, tepatnya di seberang DPRD Ungaran atau di gerai di Jalan Raya Semarang – Bawen km 24, yang ada di jalur selatan dari Semarang ke Solo atau Semarang ke Yogyakarta.

Harga tahu bakso ini cukup terjangkau. Setiap satu bungkus tahu bakso goreng berisi 10 biji harganya 22 ribu rupiah. Sedangkan tahu bakso basah atau yang belum digoreng 17 ribu rupiah. Tahu bakso ini dibuat tanpa bahan pengawet hingga bisa dimakan begitu saja ataupun diolah lagi dengan masakan lain. Di luar kulkas, makanan ini bisa bertahan sekitar dua hari. Jika dimasukkan ke kulkas, bisa tahan dan tetap enak hingga satu minggu.

Tahu bakso dengan merek Bu Pudji ini awalnya dirintis tahun 1995, saat Sri Lestari atau yang juga akrab dipanggil Bu Pudji memulai mengolah tahu bakso untuk dijual di kalangan teman-teman PKK atau Dharma Wanita.

Dari situ, produksi tahu baksonya mulai dikenal luas. Sebelumnya, Bu Pudji hanya melayani kalau ada pesanan. Saat itu, tahu bakso Bu Pudji dikenal sebagai tahu bakso kepodang karena rumahnya terletak di Jalan Kepondan, Ungaran, Kabupaten Semarang.

Kemudian, pada 1996, Bu Pudji mulai mencoba menggunakan gerobak dari kayu untuk menjual tahu bakso tersebut. Berkat kegigihannya dan menjaga rasa dan mutu dari tahu bakso itu, permintaan terus bertambah, baik yang datang langsung maupun yang dengan cara memesan.

Nama tahu bakso berubah saat Ibu Sri Lestari bersama keluarga pindah ke Jalan Kutilang dan hingga kini namanya jadi tahu bakso Bu Pudji.

Berkunjung ke Gua Kreo

Tempat wisata Gua Kreo ini dinilai cukup unik. Gua ini, selain merupakan tempat wisata yang cukup langka, memiliki pesona alam, habitat kera yang cukup banyak, serta legenda yang cukup layak diapresiasi dan dikunjungi.

Lokasi objek wisata alam kawasan wisata Gua Kreo Semarang ini berada di Dukuh Talun Kacang, Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Kawasan wisata alam ini memiliki luas total sekitar 20 hektare yang letaknya di lereng Bukit Kreo.

Karena keindahan dan keasriannya, kawasan wisata alam Gua Kreo termasuk objek paling favorit yang didatangi pengunjung. Kedalaman gua mencapai 25 meter. Sekitar 10 meter di sebelah kanan Gua Kreo, ada lagi sebuah gua bernama Gua Landak yang memiliki kedalaman hingga 30 meter.

Di sini pun terdapat hutan seluas 5 hektare, sungai, dan air terjun yang jernih yang berasal dari sumber mata air yang tak mengenal musim sehingga tak pernah surut mengalir.

Gua Kreo Semarang dipercaya sebagai lokasi petilasan Sunan Kalijaga yang dia temukan saat mencari kayu jati untuk membangun Mesjid Agung Demak. Menurut legenda, Sunan Kalijaga bertemu dengan sekawanan kera yang kemudian disuruh menjaga kayu jati tersebut.

Kata kreo berasal dari kata Mangreho yang berarti peliharalah atau jagalah. Kata inilah yang kemudian menjadikan gua ini disebut Gua Kreo, dan sejak itu kawanan kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai penunggu.

Untuk mencapai mulut gua, pengunjung harus melewati anak tangga yang cukup banyak dan curam. Di sebelah utara Gua Kreo, terdapat air terjun yang jatuh ke Sungai Kreo. Selain bisa menikmati pemandangan alam yang amat indah, udara yang sejuk, serta bercanda dengan ratusan kera ekor panjang (Macaca fascicularis), pengunjung bisa menikmati aliran sungai yang dingin dan segar di bagian bawah. SM/R-3

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
____________________________________________________________________________
Facebook:http://www.facebook.com/group.php?gid=48445356623
Multiply: http://IndonesiaGeographic.multiply.com
Multiply: http://GeographicIndonesia.multiply.com
____________________________________________________________________________
Hapus bagian yang tidak perlu untuk menghemat bandwidth. Sisakan 1 atau 2 thread agar tidak membingungkan yang lain.
Apabila topik pembicaraan berubah, usahakan Subject juga diubah sesuai topik
----------------------------------------------------------------------------
.

__,_._,___

No comments: