Thursday, December 6, 2012

[media-jabar] Indonesia Lawyers Club: Kolonisasi Logika Televisi dalam Logika Politik

 

Indonesia Lawyers Club: Kolonisasi Logika Televisi dalam Logika Politik
Oleh: Kunto Adi Wibowo
Tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC) di TV One memiliki penonton "loyal" sepanjang pengetahuan saya yang sempit. Ketika saya melakukan riset komunikasi kesehatan ke berbagai daerah di Indonesia, biasanya bapak-bapak berusia 30-50 tahun yang pengeluaran per bulannya di bawah Rp 1,5 juta, di luar cicilan dan rokok, akan dengan cepat menjawab ILC sebagai tayangan yang mereka tunggu-tunggu untuk tahu masalah kebijakan atau politik. Mungkin hanya siaran pertandingan sepakbola yang bisa mengalahkan ILC. Penilaian saya mungkin tidak objektif jika dikonfrontir dengan data rating keluaran Nielsen. Paling tidak, hasil perjumpaan saya dengan bapak-bapak yang menjadi penggemar ILC tadi menimbulkan pertanyaan bagi saya: apa sebenarnya kekuatan ILC?

Asumsi awal tentu saja euforia politik, ketika siapa pun boleh berbicara apa pun yang terkait dengan isu politik bangsa, yang dulunya relatif tabu atau tak bisa diakses oleh mereka dengan profil seperti bapak-bapak tadi. Kepuasan bergosip tidak semata-mata monopoli gender feminin. Mungkin yang berbeda adalah subjek gosipnya. Gosip tentang kekuasaan dan politik tentunya lebih maskulin walaupun efek kepuasannya mungkin sama. Tapi ini hanyalah asumsi dangkal saya, nir-data, dengan sok membajak kajian gender dan media.

Memang tak bisa dinafikan bahwa ILC memberikan bahan gosip yang asyik tentang apa yang terjadi di Jakarta. Merelasikan apa yang terjadi di layar kaca tentang isu-isu politik di pusat dengan kondisi politik lokal, dan berusaha memahami apa yang terjadi dengan kondisi politik lokal tersebut, merupakan kebutuhan yang memang merupakan fungsi dari media massa.
Di ILC kita diajak menonton tokoh-tokoh politik yang seakan-akan melepas baju formalitas mereka dan menghadirkan emosi bak pemain sinetron yang menguras sumpah serapah yang bagi siapa saja yang menyaksikan. Aktor-aktor politik yang biasanya berkuasa, kini ditelanjangi oleh aktor-aktor lain yang mungkin tak kalah biasanya dengan mereka yang menonton. Pengadilan rakyat yang semenjak Reformasi tak juga jadi kenyataan, kini disimulasikan di layar kaca dengan mengadili, mengajukan bukti-bukti dan pembelaan, dan memvonis secara implisit siapa yang bersalah dan dengan hukuman apa. Mungkin dengan ILC, saya mendapati pengadilan yang tak mungkin terjadi di dalam sistem peradilan Indonesia yang konon katanya penuh mafia.

Baca Selengkapnya di >> www.remotivi.or.id
--
REMOTIVI
"Hidupkan Televisimu, Hidupkan Pikiranmu"
www.remotivi.or.idTwitter | Facebook


Remotivi adalah sebuah inisiatif warga untuk kerja pemantauan tayangan televisi di Indonesia. Cakupan kerjanya turut meliputi aktivitas pendidikan melek media dan advokasi yang bertujuan (1) mengembangkan tingkat kemelekmediaan masyarakat, (2) menumbuhkan, mengelola, dan merawat sikap kritis masyarakat terhadap televisi, dan (3) mendorong profesionalisme pekerja televisi untuk menghasilkan tayangan yang bermutu, sehat, dan mendidik.

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
.

__,_._,___

No comments: